'Nih, rokok dulu bang.' Ucap seorang pria gondrong diikat pony tail, mengajukan sebuah bungkus rokok sehabis ia membakar sebatang rokok. Mukanya terlihat lebih tua daripada gue. Namun ntah mengapa, ia memanggil gue dengan panggilan "bang".
'Ah, iya selaw, bang.' Ucap gue membalikkan panggilannya. Gue memang bukan perokok. Dan gue di area merokok pun hanya sebatas untuk mencari angin dan mencari sinyal.
Laki-laki ini menaruh bungkus rokoknya di tengah-tengah kami duduk. Kami terpisah tak cukup jauh. Hanya sebatas satu tempat duduk di tempat duduk panjang di salah satu stasiun di Jawa Tengah. 'Dari mana bang?' Tanyanya yang gue tau merupakan obrolan basa-basi.
'Jalan-jalan bang.' Ucap gue berusaha menutupi cerita asli yang baru saja gue lakukan. Sebenarnya gue tak dari mana-mana. Gue tiba di kota ini pun bisa dibilang belum satu hari. Bahkan belum 12 jam. Bahkan belum genap 10 jam.
'Sendirian bang?,' tanyanya lagi, namun kali ini berhasil membuat gue terdiam. Sejujurnya, ya, memang sendiri. Gue pun di sini sebenarnya bukan untuk jalan-jalan. Cuma untuk menyendiri.
Menghibur diri.
Bukan untuk mencari inspirasi. Hanya untuk menyibukkan diri. Menghibur diri. Menyejukkan diri.
'Iya bang.'
'Abis nongkrong di alun-alun bang?' Kini gue kembali diam. Bagaimana bisa dia tau apa yang gue lakukan?
'Iya bang.' Gue pasang muka keheranan. Lalu ia menghembuskan asap rokok tebal sambil mengangguk-angguk.
'Lagi galau lu ya bang?,' pertanyaannya makin membuat gue terdiam. Bagaimana bisa... dia tau? 'Hahaha, gue juga sama kayak lu bang. Gue dari SMP suka pergi dari rumah buat nongkrong di sekitar sini. Pergi hari ini, pulang besoknya, kan?,' gue mengangguk perlahan. 'Hahaha. Cuma sekarang gue kuliah di sini bang. Lagi ambil skripsi makanya gue nyantai mau balik ke jakarta.,' jelasnya yang masih membuat gue bingung. 'Gue banyak nemu orang kayak lu kok. Gue ga heran. Diem doang di smoking area. Ga ngerokok atau pun ngerokok. Kantong mataan. Lu jelas lagi punya masalah.,' ia kembali mengepulkan asap rokoknya. 'Dan memang banyak orang ke sini buat nikmatin malem doang. Terus menjelang pagi, mereka pulang. Ke jakarta.,'
Benar.
Dia benar semua.
Kenapa bisa?
Gue engga tau.
Kenapa bisa......
Aneh.
Tapi yang jelas... semua kebenaran yang ia ucapkan ada salahnya sedikit--untuk gue. Karena... gue ke sini untuk menikmati perjalanan. Perjalanan yang selalu bisa mengajarkan gue arti perjalanan.
Dalam perjalanan ini, gue banyak bertemu dengan apa pun--asing bagi gue. Semua terlihat baru. Namun, mereka tak baru. Mereka lama. Mereka hanya baru bertemu dengan gue.
Seperti contohnya gue melihat indahnya gunung yang berkabut. Terlihat, kabut menyelimuti bagian atas gunung. Namun tidak mencapai puncak. Terlihat sangat indah. Dan gue baru melihat ini pertama kalinya. Sangat baru. Sangat menyenangkan. Tapi kereta membawa gue terlalu cepat. Gue tak bisa berlama-lama menikmati keindahan yang baru gue liat. Gue engga bisa pula memaksakan masinis untuk berenti agar gue bisa menikmati pemandangan ini. Sangat tak mungkin. Namun nyata.
Yang gue hanya bisa lakukan hanya melakukan ucapan selamat tinggal untuk keindahan ini. Dan... gue hanya bisa berdoa agar gue dapat sampai di tujuan gue, sehat dan selamat.
Sebatas itu yang ingin gue nikmati hingga datang ke kota ini. Tak lebih. Entah kenapa pula selalu kota ini. Ini bukan yang pertama kali. Namun selalu memberi arti.
'Lu ngerokok ga bang?,'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar