PRAKATA
Vol. 4 akhirnya keluar.
Dengan mengusung konsep blend 2 single origins. Akhirnya terciptalah "The Legend of Batak Land".
The Legend of Batak Land sendiri itu kisah tanah batak yang mengisahkan Tanah Karo dan Danau Toba. Dari sana, gue terinspirasi untuk menyatukan kopi dari Tanah Karo dan Danau Toba.
Awalnya sempat bingung karena gue ingin menciptakan sebuah kopi manual brew tetapi blend. Gue sendiri sudah pernah membuat sebuah blend untuk manual brew yang ditujukan untuk ulang tahun kedai kopi yang sering gue tongkrongi.
Saat awal berpikir blend manual brew, memang gue sudah siap dengan Tolu Batak dari daerah Lintong (daerah danau Toba). Namun, gue bingung untuk mengkombinasikan dengan kopi apa. Namun sempat mendengar cerita legenda danau toba dan dataran tinggi karo, akhirnya gue berpikir untuk menyatukannya dengan tanah Karo.
Kebetulan, gue adalah orang Karo.
Hehehe.
Dan kebetulan gue juga yang meroasting project ini (menggunakan mesin punya @zainncoffee).
Dari Vol. 4 ini, gue ingin menjelaskan beberapa hal mengenai Vol. Ini. Berikut penjelasannya:
PROFILE KOPI
Tolu Batak (Lintong)
Varietas: Sigararutang, Ateng, Rasuna, Typica, dll
Process: Wet Hull
Gue meroasting kopi ini dengan level light to medium, dengan crack di menit 10 dan gue developt selama 1 menit.
Dengan cupping note lemon, berry, coklat, spicy dan roti
Tana Karo (Kabanjahe)
Varietas: Andungsari, Typica, Ateng
Process: Dry Hull
Gue meroasting kopi ini masih sama dengan level light to medium, crack di menit 9 dan gue angkat di menit 11
Dengan cupping note berry, kelapa, coklat, kacang.
Ketika di Blend dengan skala blend 1:1, rasa yang dihasilkan lemon, berry, coklat dan roti. Gue jug merasa seperti ada keju.
Proses Pasca Panen
Proses Pasca Panen yang ada khas pada Sumatra Utara atau Tanah Batak adalah Semi Wash, biasa nya wet hull. Sangat tren di sana. Karena mempercepat perputaran kopi yang ada di sana. Tentunya juga tidak membuat semua pihak pusing dengan prosesnya.
Btw, gue adalah orang yang paling gila dengan proses wet hull. Karena menurut gue, rame di mulut namun clean.
Nah kepo kan kalo wet hull sama dry hull dijadiin satu? Hahaha Project ini akan menjawabnya hehehe.
Packaging
Kali ini, vol. 4, rilis tidak dengan valve.
Kenapa?
Tentunya ada beberapa faktor yang kalian harus pahami.
Dan tujuan gue juga untuk menyimpan aroma dan "fresh" si kopi.
Seusai roasting gue mencoba membuka si kopi lebar agar lebih leluasa bernafas (mengeluarkan gas) dari tubuhnya.
Nah jika, gue tetap kemas dengan packaging bervalve, tentunya fresh dan aroma si kopi akan hilang.
Ini juga menjadi bahasan beberapa roastery besar loh. Seperti Upside Down di Singapura. Dan Gardelli yang mulai 2017, tidak menggunakan kemasan bervalve.
Untuk updatenya, gue akan mencantumkan link-link artikel yang pernah gue baca soal valve kopi. Sangat bagus sekali.
Resep Seduh
Tentunya gue tak asal dalam membuat resep seduh. Gue memperkirakan seduhan seperti apa yang cocok untuk kopi ini saat cupping. Dan beberapa kali percobaan pun gue lakukan untuk menghasilkan rasa yang terbaik. Berikut resep seduh untuk kopi ini.
Kopi 15 gram
Dripper V60 Hario Plastik 01
Paper V60 01 Fligen
Air 230 ml - Aqua.
Grindsize medium to fine
Dengan langkah-langkah:
Tuangan pertama 70 ml air, ditunggu 45 detik
Tuangan kedua 70 ml air, ditunggu hingga surut.
Tuangan terakhir 90 ml air, ditunggu hingga surut.
Dengan resep seperti diatas, menghasilkan bright acid, medium body, aftertaste coklat dan roti. Untuk rasa terdapat lemon, berry yang mengarah ke strawberry dan body yang seperti susu.

